Skip ke Konten

Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
  • Login
  • Home
  • Artikel
    • Catatan Rektor
    • Sudut Pandang
    • Khutbah
    • Berita
    • Riset
  • Mutimedia
    • Buku & Peraturan
    • Podcast & Video
  • Forkim
    • Profil Forkim
    • Opini Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
      • Home
      • Artikel
        • Catatan Rektor
        • Sudut Pandang
        • Khutbah
        • Berita
        • Riset
      • Mutimedia
        • Buku & Peraturan
        • Podcast & Video
      • Forkim
        • Profil Forkim
        • Opini Mahasiswa
        • Kegiatan Mahasiswa
      • Tentang Kami

    • Login
    • Hubungi Kami
  • Semua Blog
  • Sudut Pandang
  • Hidup seperti Mengayuh Sepeda
  • Hidup seperti Mengayuh Sepeda

    Albert Einstein bukan pesepeda profesional. Tapi ia mengerti betul esensi hidup, lalu merangkumnya dalam satu kalimat sederhana: “Hidup itu seperti mengendarai sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, Anda harus terus bergerak.”
    12 Maret 2025 oleh
    Hidup seperti Mengayuh Sepeda
    Tim Editor LP2M IAIN Parepare
    | Belum ada komentar

    Albert Einstein bukan pesepeda profesional. Tapi ia mengerti betul esensi hidup, lalu merangkumnya dalam satu kalimat sederhana: “Hidup itu seperti mengendarai sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, Anda harus terus bergerak.”

    Kalimat yang dalam, seolah mudah, tapi penuh jebakan batman.

    Coba ingat kapan terakhir kali Anda naik sepeda? Yang benar-benar dikayuh, bukan hanya duduk manis sambil didorong anak kecil di taman kota. Mungkin waktu kecil, atau saat tren sepeda lipat menyerbu kota—lalu hilang lagi seperti kenangan mantan.

    Sepeda memang begitu. Tidak bisa diam. Kalau berhenti, jatuh. Itulah hidup. Berhenti berusaha, kita tergilas. Berhenti berpikir, kita jadi korban hoaks. Berhenti belajar, kita tertinggal zaman.

    Tapi mari jujur. Ada juga yang tetap melaju tanpa harus mengayuh—didorong keadaan, ditarik ambisi, atau kadang diseret utang.

    Kita semua pernah merasakan fase hidup yang goyah. Merasa akan jatuh. Dan satu-satunya cara agar tidak jatuh adalah terus bergerak. Meski berat. Meski nafas tersengal-sengal.

    Sepeda dan hidup sama-sama butuh keseimbangan. Tidak boleh terlalu miring ke kanan, nanti dikira fanatik. Terlalu ke kiri, bisa-bisa dicap liberal. Kalau diam di tempat? Tidak ada kemajuan. Tapi kalau ngebut tanpa arah? Bisa masuk jurang.

    Lalu bagaimana cara tetap seimbang? Jawabannya sederhana: terus bergerak, tapi tahu kapan harus rem. Persis seperti ekonomi, politik, atau bahkan cinta. Kalau terlalu cepat, bisa tabrakan. Kalau terlalu pelan, bisa disalip orang lain.

    Parepare, 11 Maret 2025

    Muhammad Haramain

    di dalam Sudut Pandang
    # Muhammad Haramain
    Hidup seperti Mengayuh Sepeda
    Tim Editor LP2M IAIN Parepare 12 Maret 2025
    Share post ini
    Label
    Muhammad Haramain
    Arsip
    Masuk untuk meninggalkan komentar

    Baca Berikutnya
    Waktu Terbaik
    Seorang teman pernah bercerita, bagaimana hidupnya berubah setelah bangkrut. Sebelumnya, ia sibuk mengejar proyek, menjalin koneksi, membangun bisnis. Lalu semuanya runtuh dalam semalam. Rumah dijual, mobil hilang, tabungan lenyap.

    Explore
    • Beranda
    • Opini
    • Video
    • Podcast
    Ikuti kami
    • Facebook
    • Twitter
    • Linkedin
    • Instagram
    Get in touch

    • [email protected]
    • +62 (421)307
    •              
    Alamat Kantor

    Jln. Amal Bakti No.87 Soreang
    Kelurahan Bukit Indah

    Kecamatan Soreang
    Kota Parepare