Skip ke Konten

Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
  • Login
  • Home
  • Artikel
    • Catatan Rektor
    • Sudut Pandang
    • Khutbah
    • Berita
    • Riset
  • Mutimedia
    • Buku & Peraturan
    • Podcast & Video
  • Forkim
    • Profil Forkim
    • Opini Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
      • Home
      • Artikel
        • Catatan Rektor
        • Sudut Pandang
        • Khutbah
        • Berita
        • Riset
      • Mutimedia
        • Buku & Peraturan
        • Podcast & Video
      • Forkim
        • Profil Forkim
        • Opini Mahasiswa
        • Kegiatan Mahasiswa
      • Tentang Kami

    • Login
    • Hubungi Kami
  • Semua Blog
  • Sudut Pandang
  • Taqwa
  • Taqwa

    Orang sering mengartikan taqwa sebagai takut kepada Tuhan. Seakan-akan Tuhan adalah sosok yang menyeramkan, duduk di singgasana-Nya dengan cambuk di tangan, siap menghukum siapa saja yang berbuat salah. Seakan-akan Tuhan adalah algojo, bukan Maha Kasih, bukan Maha Pengampun.
    2 Maret 2025 oleh
    Taqwa
    Tim Editor LP2M IAIN Parepare
    | Belum ada komentar

    Orang sering mengartikan taqwa sebagai takut kepada Tuhan. Seakan-akan Tuhan adalah sosok yang menyeramkan, duduk di singgasana-Nya dengan cambuk di tangan, siap menghukum siapa saja yang berbuat salah. Seakan-akan Tuhan adalah algojo, bukan Maha Kasih, bukan Maha Pengampun.


    Padahal, kalau taqwa hanya soal ketakutan, kenapa banyak orang yang katanya "bertakwa" tapi masih saja curang dalam berdagang? Kenapa masih ada yang hafal ayat-ayat tapi tak segan menyuap? Kenapa masih ada yang rajin ke masjid tapi lisannya tajam melukai?


    Mungkin kita perlu menata ulang pemahaman kita.


    Taqwa bukan sekadar takut, tapi sadar. Sadar bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling banyak beribadah, tapi siapa yang paling benar dalam memperlakukan sesama. Sadar bahwa Tuhan tidak hanya hadir dalam sajadah dan doa, tapi juga dalam cara kita berbicara kepada orang tua, cara kita memperlakukan teman, dan cara kita menjaga hati dari dengki dan kebencian.


    Taqwa itu bukan urusan seberapa panjang jenggotmu, seberapa besar sorbanmu, atau seberapa lantang kau berteriak membela agama. Taqwa adalah urusan bagaimana kau memperlakukan istrimu saat tak ada orang yang melihat. Bagaimana kau menyikapi perbedaan tanpa merasa paling benar. Bagaimana kau berdamai dengan dirimu sendiri sebelum menghakimi orang lain.


    Taqwa bukan tentang takut pada api neraka, tapi takut menyakiti hati manusia.


    Karena Tuhan tidak butuh ibadah kita. Tuhan tidak lapar kalau kita tidak berpuasa, tidak rugi kalau kita tidak shalat. Tapi manusia lain bisa terluka oleh lidah dan sikap kita.


    Maka taqwa bukan tentang bagaimana kita di hadapan Tuhan, tapi bagaimana kita di hadapan manusia. Sebab di akhirat nanti, yang pertama kali ditanya bukan berapa rakaat shalat kita, tapi bagaimana kita memperlakukan sesama.

    Parepare, 1 Maret 2025

    Penulis: Muhammad Haramain

    di dalam Sudut Pandang
    Taqwa
    Tim Editor LP2M IAIN Parepare 2 Maret 2025
    Share post ini
    Label
    Arsip
    Masuk untuk meninggalkan komentar

    Baca Berikutnya
    Suara dari Dalam Karung
    Sebuah Cerpen      (Suhartina)

    Explore
    • Beranda
    • Opini
    • Video
    • Podcast
    Ikuti kami
    • Facebook
    • Twitter
    • Linkedin
    • Instagram
    Get in touch

    • [email protected]
    • +62 (421)307
    •              
    Alamat Kantor

    Jln. Amal Bakti No.87 Soreang
    Kelurahan Bukit Indah

    Kecamatan Soreang
    Kota Parepare