Skip ke Konten

Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
  • Login
  • Home
  • Artikel
    • Catatan Rektor
    • Sudut Pandang
    • Khutbah
    • Berita
    • Riset
  • Mutimedia
    • Buku & Peraturan
    • Podcast & Video
  • Forkim
    • Profil Forkim
    • Opini Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
      • Home
      • Artikel
        • Catatan Rektor
        • Sudut Pandang
        • Khutbah
        • Berita
        • Riset
      • Mutimedia
        • Buku & Peraturan
        • Podcast & Video
      • Forkim
        • Profil Forkim
        • Opini Mahasiswa
        • Kegiatan Mahasiswa
      • Tentang Kami

    • Login
    • Hubungi Kami
  • Semua Blog
  • Sudut Pandang
  • Puasa
  • Puasa

    Kita berpuasa, katanya, supaya sehat. Katanya lagi, supaya bisa merasakan penderitaan orang miskin. Katanya juga, supaya lebih mendekat kepada Tuhan. Seakan-akan Tuhan bisa didekati dengan lapar. Seakan-akan Tuhan perlu melihat kita kehausan sebelum mau mendengarkan doa kita.
    2 Maret 2025 oleh
    Puasa
    Tim Editor LP2M IAIN Parepare
    | Belum ada komentar

    Kita berpuasa, katanya, supaya sehat. Katanya lagi, supaya bisa merasakan penderitaan orang miskin. Katanya juga, supaya lebih mendekat kepada Tuhan. Seakan-akan Tuhan bisa didekati dengan lapar. Seakan-akan Tuhan perlu melihat kita kehausan sebelum mau mendengarkan doa kita.

    Tapi kalau benar puasa itu demi kesehatan, kenapa banyak orang justru jadi kalap saat berbuka? Meja makan mendadak berubah seperti pesta kerajaan. Berlembar-lembar uang ditukar dengan serabi, kolak, es buah, dan gorengan yang dihabiskan dalam hitungan menit. Sehat dari mana?

    Kalau benar puasa itu supaya kita merasakan penderitaan orang miskin, kenapa selepas maghrib kita makan lebih banyak daripada biasanya? Orang miskin tidak tahu kapan akan makan. Kita tahu persis pukul berapa azan maghrib berkumandang, bahkan kita hitung mundur detiknya. Kita merasakan lapar hanya dalam tempo yang sudah ditentukan, lalu berpesta.

    Lalu, kalau benar puasa itu mendekatkan kita pada Tuhan, kenapa banyak orang tetap saja licik, tetap saja culas? Sepanjang hari menahan lapar, tapi lidah masih tajam mengiris harga diri orang lain. Mulut terkunci dari makan dan minum, tapi bebas mengunyah kebohongan, gibah, dan fitnah.

    Jadi, untuk apa berpuasa?

    Mungkin kita harus bertanya lagi: siapa sebenarnya yang butuh puasa ini? Tuhan? Orang miskin? Tubuh kita? Atau kita sendiri yang butuh latihan menata diri?

    Mungkin puasa bukan soal lapar dan haus. Mungkin puasa adalah cara Tuhan mengajarkan kita untuk berhenti sebentar, menata ulang keinginan, mendengarkan diri sendiri. Seharian kita dikekang oleh aturan biologis—tidak boleh makan, tidak boleh minum. Tapi justru dalam keterbatasan itu, kita belajar memerdekakan diri.

    Puasa adalah tentang menahan, bukan sekadar menahan lapar. Menahan ego yang ingin menang sendiri. Menahan kesombongan yang ingin selalu terlihat benar. Menahan kata-kata yang hanya akan melukai. Menahan ambisi yang terus menuntut tanpa tahu kapan harus berhenti.

    Mungkin itu sebabnya, di ujung Ramadan, ada Idulfitri. Fitri artinya kembali ke asal. Seperti bayi yang baru lahir—bersih, jujur, polos. Bukan berarti setelah puasa kita jadi manusia suci. Tapi setidaknya, kita bisa sedikit lebih tahu bagaimana menjadi manusia yang lebih baik.

    Maka, pertanyaannya bukan lagi “untuk apa berpuasa?”, tapi “setelah ini, apa yang akan kita ubah dari diri kita?”

    Parepare, 2 Maret 2025

    Penulis: Muhammad Haramain

    di dalam Sudut Pandang
    Puasa
    Tim Editor LP2M IAIN Parepare 2 Maret 2025
    Share post ini
    Label
    Arsip
    Masuk untuk meninggalkan komentar

    Baca Berikutnya
    Taqwa
    Orang sering mengartikan taqwa sebagai takut kepada Tuhan. Seakan-akan Tuhan adalah sosok yang menyeramkan, duduk di singgasana-Nya dengan cambuk di tangan, siap menghukum siapa saja yang berbuat salah. Seakan-akan Tuhan adalah algojo, bukan Maha Kasih, bukan Maha Pengampun.

    Explore
    • Beranda
    • Opini
    • Video
    • Podcast
    Ikuti kami
    • Facebook
    • Twitter
    • Linkedin
    • Instagram
    Get in touch

    • [email protected]
    • +62 (421)307
    •              
    Alamat Kantor

    Jln. Amal Bakti No.87 Soreang
    Kelurahan Bukit Indah

    Kecamatan Soreang
    Kota Parepare