Skip ke Konten

Di Balik Tegasnya Keyakinan

Sebuah kisah reflektif tentang Ziyad, seorang pemuda yang teguh dalam keyakinannya, namun dihadapkan pada dilema antara ketegasan prinsip dan kelembutan hati. Melalui percakapan dengan ibunya, ia menemukan kembali keseimbangan antara perjuangan dan kasih sayang.
4 Maret 2025 oleh
Di Balik Tegasnya Keyakinan
Admin
| Belum ada komentar

Malam itu, langit Parepare diguyur hujan ringan. Cahaya lampu jalan memantulkan genangan air di trotoar, menciptakan bayangan yang berpendar di aspal basah. Di sebuah kamar kecil yang penuh buku, Ziyad duduk di atas sajadahnya, masih tenggelam dalam pikirannya meski shalat Isya telah usai.

"Islam harus tegak dengan ketegasan," gumamnya, menatap buku yang terbuka di hadapannya. Karya-karya pemikir Islam revolusioner berjejer rapi di raknya—Sayyid Qutb dengan Ma’alim fi al-Tariq, Hasan al-Banna dengan gagasannya tentang kebangkitan Islam sebagai sistem sosial-politik, hingga Taqiuddin an-Nabhani dengan konsep Khilafah sebagai solusi umat. Setiap lembar yang ia baca semakin meneguhkan keyakinannya: kompromi dengan ideologi sekuler hanya akan melemahkan Islam.

Namun, di sudut meja, selembar surat lusuh mengintai perhatiannya. Surat dari ibunya. Dengan ragu, ia mengambilnya lagi. Kata-kata dalam tulisan tangan yang lembut itu selalu menusuk jiwanya:

"Nak, aku rindu suaramu yang lembut. Dulu, kau suka membacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk Ibu. Suaramu penuh ketenangan. Tapi sekarang, setiap kali kita bicara, aku merasakan dinding tinggi di antara kita. Apakah perjuanganmu harus membuatmu begitu jauh?"

Ziyad menarik napas dalam. Ia yakin jalan yang ia tempuh benar. Tapi mengapa hatinya terasa begitu berat? Jemarinya bergerak ke ponsel, menatap lama nomor ibunya di layar. Ada dorongan untuk menelepon, tetapi ada juga keraguan.

Di luar, hujan mulai reda, menyisakan embun di jendela. Ziyad menatap pantulan wajahnya di kaca—keras, tegas, tetapi dengan mata yang menyimpan sesuatu yang ia sendiri sulit pahami.

Keyakinan dan Hati yang Mengeras

Ia bangkit dan berjalan menuju rak bukunya. Tangannya menyusuri punggung buku-buku tebal—pemikiran Sayyid Qutb, tulisan Ibnu Taymiyyah, tafsir jihad dan syariat Islam. Setiap lembar telah membentuk dirinya menjadi seseorang yang kokoh dalam ideologi. Tapi kini, ada sesuatu yang mengusik.

Matanya tertuju pada buku kecil di sudut rak—Al-Muwatha’ karya Imam Malik. Buku itu bukan favoritnya, tapi ia teringat nasihat gurunya dulu: "Keadilan bukan hanya tentang ketegasan, tapi juga tentang kelembutan yang tepat pada waktunya."

Ziyad membuka buku itu dan membaca sebaris hadis:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ» [أخرجه البخاري ومسلم]

"Sesungguhnya, Allah itu lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan." (HR. Bukhari & Muslim)

Hatinya bergetar. Kata-kata ibunya kembali bergema dalam pikirannya. Ia teringat bagaimana dulu ia membacakan Al-Qur’an dengan suara penuh keteduhan untuk ibunya setiap malam sebelum tidur. Kini, suaranya lebih sering digunakan untuk berdebat dan menegaskan prinsip.

Azan Subuh berkumandang. Udara dini hari masih sejuk, dan Ziyad merasa seolah dirinya berdiri di persimpangan jalan.

Ia meraih ponselnya kembali. Jemarinya masih ragu, tetapi kali ini, ia membiarkan perasaannya mengalahkan egonya. Ia menekan tombol panggilan.

"Nak...?" Suara ibunya terdengar serak di seberang.

Ziyad menelan ludah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suaranya terdengar lebih lembut. "Ibu... aku rindu."

Di ujung sana, seorang ibu menangis bahagia.

Menemukan Keseimbangan

Hening sejenak. Ziyad mendengar isakan halus dari seberang telepon. Suara yang selama ini ia abaikan demi ‘perjuangannya’ kini justru membuat dadanya sesak.

"Ziyad... Ibu tidak menyangka kamu menelepon," suara ibunya bergetar.

Ziyad menutup matanya. "Maaf, Bu. Aku terlalu sibuk."

"Bukan hanya sibuk, Nak," suara ibunya lembut tetapi menusuk, "kau seperti orang yang berbeda. Kau dulu anak yang sabar, selalu bertanya sebelum menghakimi. Tapi sekarang..."

Ziyad mengepalkan tangannya. Ia ingin menyangkal, ingin mengatakan bahwa prinsipnya adalah kebenaran. Namun, hatinya berkata lain.

"Apa Ibu merasa aku telah berubah menjadi buruk?" tanyanya, nyaris berbisik.

Ibunya terdiam sejenak. Lalu, dengan suara penuh kasih, ia menjawab, "Bukan buruk, Nak. Tapi hatimu jadi keras."

Kata-kata itu lebih tajam daripada debat mana pun yang pernah ia jalani. Ia ingin membantah, tapi bukankah ini yang selama ini ia rasakan?

Ia teringat percakapannya dengan seorang mahasiswa tingkat satu beberapa hari lalu di masjid kampus.

"Bang Ziyad, kenapa kita tidak boleh sedikit lebih lunak terhadap mereka yang berbeda pandangan?"

Tanpa berpikir panjang, Ziyad menatapnya tajam dan menjawab, "Karena kebenaran itu mutlak! Tidak ada tawar-menawar dalam agama."

Mahasiswa itu mengangguk, tapi ada sorot kecewa di matanya. Saat itu, Ziyad tidak peduli. Tapi kini, di tengah percakapan dengan ibunya, pertanyaan itu kembali muncul dalam benaknya.

"Ibu, bagaimana caranya tetap teguh tapi tidak kehilangan kelembutan?" tanyanya lirih, seperti seorang anak kecil yang meminta nasihat setelah sekian lama merasa dirinya sudah dewasa.

Ibunya tertawa kecil, suara yang begitu ia rindukan. "Nak, Rasulullah adalah manusia paling tegas dalam mempertahankan kebenaran. Tapi beliau juga manusia yang paling lembut dalam menyampaikannya."

Ziyad terdiam.

"Kau boleh berpegang teguh pada keyakinanmu, Nak. Tapi jangan sampai kau kehilangan wajah manusiawimu," lanjut ibunya. "Karena Islam bukan hanya tentang ketegasan, tapi juga tentang kasih sayang."

Hujan telah reda. Matahari mulai mengintip di ufuk timur, mengubah langit dari hitam menjadi jingga. Ziyad menatap jendela, merasakan sesuatu yang baru di dadanya.

"Ibu," katanya pelan, "Aku ingin pulang."

Di seberang sana, ibunya tersenyum, meski air mata masih mengalir di pipinya. "Pulanglah, Nak. Ibu selalu menunggumu."

Makassar, 4 Maret 2025

Dr. H. Muhiddin Bakri

Di Balik Tegasnya Keyakinan
Admin 4 Maret 2025
Share post ini
Arsip
Masuk untuk meninggalkan komentar