Kecemasan itu nyata. Bukan hanya karena sesuatu yang benar-benar terjadi, tetapi sering kali karena sesuatu yang kita baca, lihat, dan dengar di media sosial. Kita terjebak dalam lingkaran scrolling tanpa akhir, membuka ponsel tanpa alasan jelas, dan membiarkan diri kita terseret dalam arus informasi yang terus mengalir tanpa henti.
Pagi ini, seseorang membuka ponselnya sebelum sempat menikmati sahur. Jari-jarinya bergerak otomatis, mengecek status WhatsApp dan media sosial. Ada informasi bahwa tunjangan vakasi di kampus lain sudah cair, sementara di tempatnya belum ada kabar. Hati mulai bergejolak. Lalu muncul unggahan lain—kabar burung soal kemungkinan tidak adanya tunjangan hari raya tahun ini. Rasa waswas semakin menjadi.
Ia mencoba mengalihkan perhatian, tetapi mata kembali tertuju pada postingan teman lama yang baru saja membeli mobil. Lalu ada tetangga yang posting family gathering di tempat yang keren. Seketika, pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan: Kenapa aku masih begini-begini saja? Apa aku kurang usaha? Kok mereka bisa?
Inilah realitas digital distraction. Gangguan yang terus-menerus datang dari media sosial, mengalihkan kita dari pekerjaan, membuyarkan fokus, dan lebih buruk lagi—menyulut kecemasan. Alih-alih menyelesaikan tugas, kita justru tenggelam dalam perbandingan yang melelahkan.
Dr. Saepudin, Wakil Rektor I IAIN Parepare, dalam salah satu kultumnya hari ini membahas topik penting: era digital bukan hanya membawa manfaat, tetapi juga tantangan besar. Salah satunya adalah bagaimana kita bisa tetap menjaga ketenangan dan fokus di tengah banjir informasi yang tidak selalu bermanfaat. Ketika kita terlalu sering terpapar media sosial, kita bukan hanya kehilangan waktu, tetapi juga kebahagiaan.
Mungkin inilah saatnya untuk melakukan detoksifikasi digital. Seperti tubuh yang perlu dibersihkan dari racun, pikiran kita juga perlu disegarkan kembali dengan mengurangi paparan terhadap konten-konten yang tidak membawa manfaat. Dan tak ada momentum yang lebih tepat untuk memulai selain bulan Ramadhan.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia juga mengajarkan kita untuk menahan diri dari segala sesuatu yang bisa merusak ketenangan batin. Termasuk dalam hal ini adalah godaan untuk terus menggulir layar, membandingkan hidup kita dengan orang lain, dan membiarkan diri larut dalam kecemasan yang tidak perlu.
Ramadhan bisa menjadi starting point untuk mengurangi pengaruh negatif media sosial dalam hidup kita. Kita bisa mulai dengan menetapkan waktu tertentu untuk membuka media sosial, menghindari doomscrolling, dan lebih banyak mengisi waktu dengan aktivitas yang lebih bermakna—membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau sekadar berbincang dengan keluarga tanpa gangguan layar.
Mungkin, kita tidak perlu lebih banyak informasi, tetapi lebih sedikit distraksi. Mungkin, kebahagiaan bukan terletak pada mengetahui apa yang terjadi di hidup orang lain, tetapi pada kemampuan untuk menikmati dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki.
Saat azan maghrib berkumandang, kita berbuka. Bukan hanya dengan seteguk air dan sepotong kurma, tetapi juga dengan ketenangan jiwa—karena hari itu, kita berhasil mengendalikan diri. Bukan hanya dari makanan dan minuman, tetapi juga dari kecemasan yang selama ini tanpa sadar kita biarkan masuk lewat layar kecil di genggaman kita.
Parepare, 4 Maret 2025
mh
Detoksifikasi Digital