Skip ke Konten

Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
  • Login
  • Home
  • Artikel
    • Catatan Rektor
    • Sudut Pandang
    • Khutbah
    • Berita
    • Riset
  • Mutimedia
    • Buku & Peraturan
    • Podcast & Video
  • Forkim
    • Profil Forkim
    • Opini Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
      • Home
      • Artikel
        • Catatan Rektor
        • Sudut Pandang
        • Khutbah
        • Berita
        • Riset
      • Mutimedia
        • Buku & Peraturan
        • Podcast & Video
      • Forkim
        • Profil Forkim
        • Opini Mahasiswa
        • Kegiatan Mahasiswa
      • Tentang Kami

    • Login
    • Hubungi Kami
  • Semua Blog
  • Opini Dosen
  • Berbagi "Baku Maulid" Itu Membahagiakan
  • Berbagi "Baku Maulid" Itu Membahagiakan

    Muhammad Haramain (LPPM IAIN Parepare)
    12 September 2025 oleh
    Berbagi "Baku Maulid" Itu Membahagiakan
    Suhartina
    | Belum ada komentar

    Bulan Maulid tiba.

    Di kampung-kampung Bugis dan Makassar, suasananya meriah. Bukan hanya doa dan selawat, tetapi juga tradisi baku maulid.

    Saya, orang Sasak-Lombok, pertama kali mengikuti baku maulid tradisi Bugis-Makassar ketika baru melanjutkan studi S-2 di Makassar pada tahun 2007. Masjid dan musala penuh jemaah. Makanan tersaji berlapis-lapis, bersama burra dari pohon pisang yang dihias, ditancapi bambu, dan telur warna-warni. Seusai acara, panitia membawa banyak baku (bingkisan dari ember atau wadah lain) berisi ketan, lauk, dan kue. Lalu ditukar dengan baku milik tetangga. Semua mendapat. Semua merasa senang.

    Kalau dipikir-pikir, baku maulid itu sebenarnya mirip riset Dunn dkk. yang sudah lama dipraktikkan orang Sulawesi Selatan. Pada tahun 2008, peneliti dari Kanada itu menulis di Journal Science: uang yang dipakai untuk orang lain membuat kita lebih bahagia dibandingkan uang yang dipakai untuk diri sendiri.

    Di Sulsel, tanpa perlu membaca jurnal, orang sudah tahu: berbagi makanan di bulan Maulid membuat hati lebih lapang. Jemaah bahagia karena bisa berbagi. Tamu bahagia karena merasa dihargai. Tetangga bahagia karena mendapat giliran. Anak-anak paling bahagia karena bisa menyantap banyak kue manis lebih banyak daripada biasanya.

    Semuanya saling memberi. Saling menerima. Kebahagiaan itu pun menyebar.

    Tradisi ini mungkin terlihat sederhana, hanya tukar-menukar baku. Namun, dampaknya luar biasa: ada rasa kebersamaan, rasa cukup, dan rasa syukur.

    Sekarang kita hidup di zaman belanja daring. Klik-klik-klik, barang pun datang. Bahagia? Ya, tetapi hanya sebentar. Tidak sama dengan bahagia setelah memberi.

    Baku maulid mengajarkan: kebahagiaan bertahan lebih lama bila lahir dari berbagi, bukan dari membeli.

    Nabi sudah lama bersabda: harta tidak akan berkurang karena sedekah. Sains baru mengakuinya seribu empat ratus tahun kemudian.

    Mungkin inilah yang membuat wajah orang-orang Sulsel tampak cerah setiap Maulid. Mereka tahu rahasia sederhana itu: bahagia bukan dari apa yang disimpan, melainkan dari apa yang dibagikan.

    Parepare, 12 September 2025

    di dalam Opini Dosen
    # Dosen IAIN Parepare MUhammad Haramain maulid
    Berbagi "Baku Maulid" Itu Membahagiakan
    Suhartina 12 September 2025
    Share post ini
    Label
    Dosen IAIN Parepare MUhammad Haramain maulid
    Arsip
    Masuk untuk meninggalkan komentar

    Baca Berikutnya
    Di Balik Pengakuan Kebenaran: Hidayah dan Refleksi Kehidupan Kampus
    Dr. Andi Nurkidam, M. Hum. (Dekan FUAD IAIN Parepare)

    Explore
    • Beranda
    • Opini
    • Video
    • Podcast
    Ikuti kami
    • Facebook
    • Twitter
    • Linkedin
    • Instagram
    Get in touch

    • [email protected]
    • +62 (421)307
    •              
    Alamat Kantor

    Jln. Amal Bakti No.87 Soreang
    Kelurahan Bukit Indah

    Kecamatan Soreang
    Kota Parepare