Catatan Rektor #29.
Pidato akademik biasanya sarat dengan angka, data, dan istilah-istilah ilmiah yang terdengar agung. Dalam pengukuhan guru besar, misalnya, kita sering mendengar paparan panjang tentang perjalanan akademik, ucapan terima kasih kepada kolega, serta harapan mulia untuk dunia pendidikan. Namun, di atas podium itu, di hadapan ribuan tamu undangan, Prof. Hannani menghadirkan sesuatu yang lain.
Ia menyebut banyak nama dalam pidatonya--pejabat, tamu undangan, dosen, mahasiswa, sahabat, hingga rekan kerja--semua yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Tapi, ada satu nama yang ia sisihkan untuk bagian penutup: istrinya, Ibu Nirwani.
“Saya menyebutnya terakhir,” ujarnya sambil tersenyum, “karena saya berharap, tiada akhir dalam kebersamaan ini”
Suasana ruangan yang semula khidmat seketika berubah. Ada yang tersenyum, ada yang berbisik pelan, dan beberapa tamu celingukan, mencoba menangkap ekspresi Bu Rektor.
Bagi sebagian hadirin, kalimat itu mungkin terdengar sekadar ungkapan romantis. Namun, bagi mereka yang mengenal lika-liku hidup Prof. Hannani, ini bukan sekadar kata-kata puitis. Ini adalah penghormatan tulus atas kesetiaan seorang istri yang telah mendampinginya--dari masa ia masih dosen muda, saat ia mulai menapaki tangga jabatan, hingga kini ketika ia berdiri sebagai guru besar.
Kesetiaan dalam dunia akademik bukan hanya soal tekun pada satu bidang ilmu. Ia juga tentang keteguhan mendampingi pasangan yang hidupnya kerap dipenuhi oleh tumpukan jurnal, seminar, dan sidang-sidang yang terkadang lebih lama ketimbang waktu untuk keluarga.
Menjadi istri seorang dosen bukan tugas ringan. Ia harus sabar menanti saat suaminya larut dalam urusan kampus. Ia harus memahami bahwa malam Minggu sering kali diisi rapat atau tamu, bukan quality time berdua di rumah. Ia juga harus rela mendengar diskusi panjang tentang kebijakan kampus yang, entah mengapa, selalu terasa lebih mendesak daripada sinetron favoritnya.
Maka, saat Prof. Hannani melontarkan kalimat itu, bukan hanya istrinya yang tersenyum malu-malu. Para istri dosen di ruangan itu ikut menoleh ke arah suami masing-masing dengan tatapan penuh arti. Ada yang diam-diam mencubit lengan pasangannya, ada pula yang hanya tersenyum tipis--mungkin diam-diam berharap mendengar kalimat serupa di rumah nanti.
Sebab, dalam kehidupan seorang dosen, ada dua hal yang tak boleh ditinggalkan: jurnal ilmiah dan pasangan setia, yang selalu ada di sisinya. Jurnal bisa dicari kapan saja. Tapi, jika pasangan itu hilang, naik pangkat setinggi apa pun tak akan lagi terasa berarti.
Seperti ungkapan puitis pak rektor, "Semoga tiada akhir dalam kebersamaan ini.."
Parepare, 29 Ramadhan 1446 H.
Muhammad Haramain
Tak Ingin Ada Akhir dari Kebersamaan Ini.