Skip ke Konten

Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
  • Login
  • Home
  • Artikel
    • Catatan Rektor
    • Sudut Pandang
    • Khutbah
    • Berita
    • Riset
  • Mutimedia
    • Buku & Peraturan
    • Podcast & Video
  • Forkim
    • Profil Forkim
    • Opini Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
      • Home
      • Artikel
        • Catatan Rektor
        • Sudut Pandang
        • Khutbah
        • Berita
        • Riset
      • Mutimedia
        • Buku & Peraturan
        • Podcast & Video
      • Forkim
        • Profil Forkim
        • Opini Mahasiswa
        • Kegiatan Mahasiswa
      • Tentang Kami

    • Login
    • Hubungi Kami
  • Semua Blog
  • Opini Dosen
  • Refleksi Maulid Nabi Muhammad melalui Petuah Bugis "Jama-Jamang Linomi"
  • Refleksi Maulid Nabi Muhammad melalui Petuah Bugis "Jama-Jamang Linomi"

    Misbahuddin, S.Ag., M.A. (Analisis SDM Ahli Muda IAIN Parepare)
    8 September 2025 oleh
    Refleksi Maulid Nabi Muhammad melalui Petuah Bugis "Jama-Jamang Linomi"
    Suhartina
    | Belum ada komentar

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. selalu menjadi momen istimewa untuk merenungkan teladan beliau. Tak hanya ritual, tetapi juga pengingat nilai spiritual yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

    Salah satu kearifan Bugis yang sejalan adalah pepatah “Jama-Jamang Linomi”—“ini hanyalah pekerjaan dunia.” Pepatah sederhana ini menegaskan bahwa dunia hanya sarana, bukan tujuan akhir. Pekerjaan, karier, dan harta hanyalah ladang untuk menanam amal yang hasilnya dipetik di akhirat.

    Nabi Muhammad saw. pun mengajarkan hal serupa: setiap pekerjaan yang jujur dan diniatkan baik adalah ibadah. Dunia harus digarap sungguh-sungguh, namun tidak boleh membuat kita lalai dari tujuan akhir.

    Makna pepatah ini melahirkan sikap tawadu. Menyadari bahwa semua pencapaian bersifat sementara, kita belajar rendah hati, tidak sombong, dan senantiasa bersyukur. Kesombongan adalah musuh sejati, sementara integritas dan amanah, teladan Nabi dalam berdagang dan bekerja adalah kunci keberkahan.

    Di tengah dunia modern yang menuntut kecepatan dan hasil instan, pesan “Jama-Jamang Linomi” mengingatkan untuk sabar, tekun, dan teliti. Setiap profesi, dari guru hingga petani, pedagang hingga pegawai, bisa menjadi ibadah jika dilandasi niat ikhlas dan kejujuran.

    Maulid Nabi karenanya bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi: apakah kerja kita sekadar mengejar materi, atau juga menebar manfaat? Apakah etos kerja kita selaras dengan nilai spiritual?

    Akhirnya, pepatah Bugis dan ajaran Nabi berpadu sebagai panduan hidup: bekerja sungguh-sungguh, jujur, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama. Dengan begitu, hidup kita bukan hanya sibuk, tetapi juga bermakna dan penuh berkah.

    di dalam Opini Dosen
    Refleksi Maulid Nabi Muhammad melalui Petuah Bugis "Jama-Jamang Linomi"
    Suhartina 8 September 2025
    Share post ini
    Label
    Arsip
    Masuk untuk meninggalkan komentar

    Baca Berikutnya
    Harmoni Nusantara di Kampus Akulturasi: Membaca Maulid Nabi sebagai Ruang Moderasi Beragama dan Ekoteologi Sosial
    Hamzah (Dosen MPBA Pascasarjana IAIN Parepare)

    Explore
    • Beranda
    • Opini
    • Video
    • Podcast
    Ikuti kami
    • Facebook
    • Twitter
    • Linkedin
    • Instagram
    Get in touch

    • [email protected]
    • +62 (421)307
    •              
    Alamat Kantor

    Jln. Amal Bakti No.87 Soreang
    Kelurahan Bukit Indah

    Kecamatan Soreang
    Kota Parepare