Humas IAIN Parepare - Kekayaan budaya masyarakat Bugis terus hidup melalui berbagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah Mapenre Tojang, sebuah tradisi adat yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas kehadiran seorang anak sekaligus menjadi sarana memanjatkan doa dan harapan bagi kehidupan sang anak di masa mendatang.
Pada Jumat, 21 Agustus 2026, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 41 turut menyaksikan secara langsung pelaksanaan tradisi Mapenre Tojang yang berlangsung di wilayah Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat adat istiadat masyarakat Bugis sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang masih dipertahankan hingga saat ini.
Salah satu tahapan penting dalam pelaksanaan Mapenre Tojang adalah ritual Mangolo. Prosesi ini memiliki berbagai perlengkapan, aturan, dan simbol adat yang mengandung makna tersendiri bagi masyarakat Bugis.
Rangkaian kegiatan diawali pada pagi hari dengan Mabarasanji atau pembacaan Barasanji. Kegiatan tersebut diisi dengan pembacaan selawat dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. serta permohonan agar sang anak senantiasa memperoleh keberkahan, keselamatan, dan kehidupan yang baik.

Setelah Mabarasanji selesai, rangkaian acara dilanjutkan pada siang hari dengan ritual Mangolo. Prosesi ini dipimpin oleh seorang Sanro, yakni tokoh yang dipercaya memiliki pengetahuan mengenai tata cara pelaksanaan tradisi dan berperan dalam mengarahkan jalannya prosesi adat.
Dalam ritual tersebut, berbagai perlengkapan adat dipersiapkan secara khusus. Salah satunya adalah baki yang berisi sejumlah piring. Jumlah piring yang digunakan dapat berjumlah 7, 9, atau 12 piring, sesuai dengan ketentuan adat dan strata sosial keluarga yang melaksanakan prosesi.
Selain baki, terdapat pula Bongka Aliri, yakni sokko atau ketan yang disusun menjulang menyerupai menara dan pada bagian puncaknya diletakkan telur. Bentuk tersebut menjadi salah satu simbol penting dalam prosesi Mangolo karena tidak sekadar berfungsi sebagai hidangan, tetapi juga mengandung harapan terhadap kehidupan sang anak.
Bongka Aliri dimaknai sebagai simbol kemakmuran, keberlangsungan kehidupan, serta harapan agar rezeki dan kebaikan senantiasa menyertai sang anak. Telur yang ditempatkan di bagian atas juga menjadi bagian dari simbolisasi harapan agar kehidupan sang anak dapat tumbuh dengan baik dan memperoleh keberkahan.
Prosesi yang tidak kalah penting adalah Maddiseng, yaitu pemberian suapan makanan secara simbolis. Dalam pelaksanaannya, suapan pertama diberikan kepada sang anak, kemudian dilanjutkan kepada kedua orang tuanya.
Urutan tersebut memiliki filosofi yang kuat. Anak ditempatkan sebagai pusat harapan dalam prosesi tersebut. Suapan pertama kepada anak menjadi doa agar kelak rezekinya terus mengalir, kehidupannya dipenuhi keberkahan, dan apa yang diperolehnya dapat memberikan manfaat serta kebahagiaan bagi kedua orang tuanya.

Bagi mahasiswa KKN Posko 41, pengalaman menyaksikan ritual Mangolo memberikan pemahaman bahwa sebuah tradisi tidak hanya berbicara mengenai rangkaian kegiatan seremonial. Di balik setiap perlengkapan dan tahapan prosesi terdapat nilai-nilai kehidupan, mulai dari rasa syukur, doa, penghormatan terhadap orang tua, hubungan kekeluargaan, hingga harapan terhadap masa depan generasi penerus.
Tradisi Mapenre Tojang juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Bugis Wajo mempertahankan identitas budayanya di tengah perkembangan zaman. Pelaksanaan tradisi secara turun-temurun menjadi salah satu bentuk upaya masyarakat dalam menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal dan dipahami oleh generasi muda.
Kehadiran mahasiswa KKN Posko 41 di tengah masyarakat Kecamatan Majauleng turut menjadi ruang pembelajaran budaya secara langsung. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk belajar dari kehidupan dan tradisi masyarakat setempat.
Melalui tradisi Mapenre Tojang, khususnya ritual Mangolo, tersimpan pesan bahwa kelahiran seorang anak bukan hanya menjadi kebahagiaan bagi keluarga, tetapi juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa, mempererat hubungan antarkeluarga, serta meneruskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Jumat, 21 Agustus 2026, menjadi salah satu momen bagi mahasiswa KKN Posko 41 untuk menyaksikan secara langsung bagaimana warisan budaya masyarakat Bugis Wajo tetap hidup di tengah masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pengabdian sekaligus pembelajaran mahasiswa dalam memahami dan menghargai keberagaman budaya lokal di Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo. (Posko41/Fzs/Sra)