Skip ke Konten

Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
  • Login
  • Home
  • Artikel
    • Catatan Rektor
    • Sudut Pandang
    • Khutbah
    • Berita
    • Riset
  • Mutimedia
    • Buku & Peraturan
    • Podcast & Video
  • Forkim
    • Profil Forkim
    • Opini Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
Hasyiyah: Mendalami makna, merawat keberagaman
      • Home
      • Artikel
        • Catatan Rektor
        • Sudut Pandang
        • Khutbah
        • Berita
        • Riset
      • Mutimedia
        • Buku & Peraturan
        • Podcast & Video
      • Forkim
        • Profil Forkim
        • Opini Mahasiswa
        • Kegiatan Mahasiswa
      • Tentang Kami

    • Login
    • Hubungi Kami
  • Semua Blog
  • Berita
  • KKN Posko 57 Dokumentasikan Adat Sando Batu di Desa Compong
  • KKN Posko 57 Dokumentasikan Adat Sando Batu di Desa Compong

    1 September 2026 oleh
    Fikruzzamansaleh
    | Belum ada komentar

    Humas IAIN Parepare – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare Posko 57 melakukan observasi dan dokumentasi Adat Sando Batu di Desa Compong, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang. Kegiatan tersebut menjadi upaya mahasiswa untuk mengenal, mendokumentasikan, dan memperkenalkan warisan budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat.

    Observasi dilaksanakan pada 25–26 Juli 2026 dengan menggali informasi mengenai sejarah, asal-usul, rangkaian pelaksanaan, nilai-nilai, serta siklus pertanian yang terdapat dalam Adat Sando Batu. Sementara itu, dokumentasi dilakukan pada 19 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya mendukung pelestarian dan pengenalan tradisi kepada masyarakat yang lebih luas.

    Berdasarkan hasil observasi, Adat Sando Batu merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur yang berasal dari wilayah kaki Gunung Latimojong dan kemudian menetap di Wala-wala. Tradisi tersebut telah berlangsung sejak masa leluhur hingga saat ini dengan memadukan unsur budaya lokal dan nilai-nilai Islam.

    Nama Sando Batu berkaitan dengan sekelompok masyarakat yang dahulu menetap di wilayah Batu. Dalam kehidupan masyarakat, sando memiliki kedudukan sebagai penasihat yang memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, bukan sebagai pemimpin tertinggi.

    Adat Sando Batu tidak hanya berkaitan dengan satu kegiatan, tetapi mencakup berbagai rangkaian yang menggambarkan siklus kehidupan manusia. Beberapa di antaranya ialah masunna atau prosesi mengislamkan dan mengkhitan anak, mattampung yang berkaitan dengan ziarah kubur setelah masa tertentu, serta mattojolo sebagai prosesi mengenang anggota keluarga yang telah meninggal. Rangkaian tersebut menggambarkan perjalanan kehidupan manusia mulai dari kelahiran, pertumbuhan, hingga kematian.

    Dalam pelaksanaannya, Adat Sando Batu juga memiliki berbagai unsur budaya, salah satunya Tari Pajjaga yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda. Tarian tersebut dilakukan dengan mengelilingi seorang anak yang mengikuti prosesi khataman Al-Qur'an.

    Pelaksanaan tradisi juga memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Berbagai kebutuhan dalam prosesi dipenuhi melalui patungan dan kerja sama antaranggota masyarakat.

    Selain berkaitan dengan siklus kehidupan, Adat Sando Batu memiliki hubungan erat dengan kehidupan pertanian masyarakat. Dalam tradisi tersebut terdapat sejumlah tahapan pertanian, mulai dari penandaan atau pembacaan siklus bintang untuk menentukan waktu, Ma’tanda Kabo untuk menentukan lokasi, Mappamula, Tumambun, Ma’katonan, hingga proses penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan padi. Setiap tahapan memiliki aturan dan makna tersendiri yang diwariskan dari generasi ke generasi.

    Siklus pertanian tersebut terus berlanjut melalui berbagai tahapan, seperti Mitaruk, Mapatama To’do, Mabulo, Madara Bulo, Mapammula Minggala, hingga Mapasiammu. Salah satu nilai yang terlihat dalam proses tersebut ialah kebersamaan.

    Sistem panen dilakukan secara bergilir dengan mendahulukan lahan yang padinya lebih mendesak untuk dipanen. Para petani kemudian saling membantu hingga seluruh lahan masyarakat selesai dipanen.

    Puncak dari rangkaian pertanian tersebut ialah Macera atau pesta panen. Dalam kegiatan ini, masyarakat memasak makanan untuk dinikmati bersama. Selain makan bersama, terdapat pula kegiatan tahlilan, barasanji, ziarah, serta pemberian zakat yang dahulu disebut Pabbisalima.

    Zakat tersebut kemudian dibagikan kepada beberapa pihak, termasuk Sando, kepala kelompok pertanian, imam, sando-sando kecil, dan masyarakat umum, khususnya warga yang kurang mampu.

    Nilai utama yang terkandung dalam Adat Sando Batu ialah pemahaman mengenai siklus kehidupan. Tradisi ini mengajarkan bahwa manusia memiliki perjalanan kehidupan mulai dari lahir, tumbuh, menjalani kehidupan, hingga kembali kepada Sang Pencipta. Nilai tersebut juga tercermin dalam kehidupan pertanian, yakni proses menanam, menikmati hasil, kemudian kembali menanam sebagai bagian dari siklus kehidupan.

    Melalui observasi dan dokumentasi tersebut, mahasiswa KKN IAIN Parepare Posko 57 berupaya mengambil bagian dalam mengenal serta mendokumentasikan Adat Sando Batu sebagai warisan budaya masyarakat. Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sejarah, budaya, kebersamaan, dan kearifan lokal yang terkandung dalam Adat Sando Batu agar tetap dikenal dan dihargai oleh generasi selanjutnya.

    (Dsy/Nml/Fzs/Sra)

    di dalam Berita
    # KKN 37 LP2M
    Fikruzzamansaleh 1 September 2026
    Share post ini
    Label
    KKN 37 LP2M
    Arsip
    Masuk untuk meninggalkan komentar

    Baca Berikutnya
    Semarak Kemerdekaan, KKN Posko 13 Gelar Lomba di SDN 156 Mattampawalie

    Explore
    • Beranda
    • Opini
    • Video
    • Podcast
    Ikuti kami
    • Facebook
    • Twitter
    • Linkedin
    • Instagram
    Get in touch

    • [email protected]
    • +62 (421)307
    •              
    Alamat Kantor

    Jln. Amal Bakti No.87 Soreang
    Kelurahan Bukit Indah

    Kecamatan Soreang
    Kota Parepare